Ilmu Kuliah Sia-Sia? Bukan! Ini Modal Superpower Buat Taklukkan Rimba Kerja & Nepo!

Baca 8 menit
Ilmu Kuliah Sia-Sia? Bukan! Ini Modal Superpower Buat Taklukkan Rimba Kerja & Nepo!

Ini Realita Pahit KITA: Curhat Kita, Curhat Semua...

Guys, kita semua pasti relate deh sama curhatan kayak gini: "Udah capek-capek kuliah S1/D3/apa pun itu, ngorbanin uang jajan, begadang ngerjain tugas, pas lulus mau cari kerja, eh susahnya minta ampun. Giliran dapet kerjaan, kok ya nggak nyambung sama jurusan yang kita pelajari. Rasanya kayak... ini buat apa sih gue kuliah kemarin?"

Nah, aku bisa banget ngerasain vibes galau itu. Jujur aja, perasaan seperti ini wajar banget untuk masa sekarang, bahkan dialami banyak banget anak muda di luar sana, termasuk kita. Kamu nggak sendiri, kok.

Tapi, tunggu dulu. Belum lagi, kadang ada 'level bos' yang bikin kepala kita makin pusing tujuh keliling: sistem kolusi, nepotisme, atau pake 'orang dalam' yang suka bikin kita geleng-geleng. Ada yang udah effort sana-sini, interview berulang kali, eh pas di akhir, yang keterima malah si 'titipan'. Bikin kita mikir, 'ini kompetisi sehat apa bukan sih?'

Tulisan ini bukan buat kita makin baper atau nangis di pojokan bareng, tapi buat kita sama-sama buka mata, sedikit 'nyentil' realita pahit ini, dan yang paling penting, biar kita sadar kalau ilmu kita itu NGGAK PERNAH SIA-SIA. Justru ini modal terbesar kita. Yuk, kita gas!

Perjalanan Berliku Kita di Hutan Rimba Kerja

Ijazah Bukan Kartu Sakti, Guys!

Dulu kita mungkin mikirnya, lulus kuliah = langsung auto-dapat kerja sesuai jurusan dengan gaji mantap. Mimpi indah! Realitanya, pasar kerja sekarang itu kayak game yang patch-nya update terus, cepet banget berubah. Skill yang dibutuhkan beda-beda dan khusus di Indonesia kadang ngayal, dan lowongan kerja nggak selalu linier. Ijazah kita itu 'pass' masuk, tidak 'guarantee' auto-menang kerjaan. Ini bukan salah kita, tapi memang kondisi dunia kerja sekarang yang lagi nggak stabil-stabilnya. Jadi, stop nyalahin diri sendiri dulu!

Kerja Gak Nyambung? Itu Vibes Kita Banget!

Siapa di sini yang kerjanya sekarang jauh banget dari jurusan kuliahnya? Angkat tangan! Tenang, kita nggak sendiri. Banyak banget kok yang begini. Dari yang awalnya belajar bikin roket di jurusan antariksa, eh sekarang ngurusin medsos. Dari yang ngerti banget sejarah, eh sekarang jadi sales. Dari anak Arsitektur malah jadi social media specialist, atau lulusan Hukum tapi sekarang ngurusin logistik atau malah lulusan kehutanan eh jadi guru.

Kenapa bisa begitu? Ya, kadang kita pas kuliah belum yakin banget mau apa, atau memang lowongan yang ada cuma itu doang, atau pas kerja baru sadar kalau passion kita ada di tempat lain. Jujur aja, kadang kita terpaksa ambil apa pun yang ada, demi 'survival', demi punya 'pengalaman' di CV, dan demi ada pemasukan. Kita semua pernah di posisi itu kok.

'Orang Dalam': Si Paling Bikin Kita Ngelus Dada!

Nah, ini nih 'musuh' paling ngeselin yang bikin kita pengen teriak! Udah capek-capek effort belajar mati-matian, bikin CV segudang, latihan interview sampai bibir dower, eh pas di akhir, yang keterima malah si 'titipan' atau 'orang dalam'. Rasanya kayak, "jadi selama ini gue usaha buat apa?!"

Ini bukan sekadar bad luck atau kebetulan, tapi cerminan masalah sistemik yang menggerogoti kualitas talenta dan bikin kompetisi jadi nggak sehat. "Orang pinter kalah sama orang dalam, pinter banget!" kata orang-orang. Karena bapaknya si Anu eh dia bisa jadi Anu. Kita yang cuma ngandelin otak dan skill rasanya kayak dianaktirikan. Langsung deh muncul pertanyaan horor: "Apa jangan-jangan ilmu kita sia-sia karena kalah sama koneksi mereka?"

Kenapa Ilmu Kita (dan Kita Sendiri) TIDAK Sia-Sia, Titik!

Ijazah Mungkin Gak Langsung Dipakai, Tapi Skill Kita Itu Harta Karun!

Dengerin nih, guys. Kuliah itu nggak cuma soal materi spesifik jurusan doang. Di sana kita diasah buat:

  • Critical Thinking & Problem Solving: Gimana caranya menganalisis masalah dan nyari solusi.
  • Communication Skills: Cara presentasi yang oke, nulis laporan yang jelas, diskusi yang efektif.
  • Time Management & Discipline: Ngatur waktu biar tugas-tugas kelar, nggak molor.
  • Teamwork & Leadership: Kerja kelompok, berorganisasi.
  • Research Skills: Nyari informasi, ngolah data.

Skill-skill ini, percaya deh, bisa kita pakai di SEMUA bidang kerja. Ini tuh kayak superpower kita yang bisa dibawa kemana-mana. Ijazah kita mungkin cuma 'kunci' awal, tapi skill-skill inilah yang bikin kita bisa 'muter-muter' di berbagai pintu dan tetap survive.

Ilmu Kita itu Fondasi Kuat, Bikin Kita Fleksibel!

Pengetahuan dari jurusan kita itu kayak fondasi rumah. Mungkin desain rumahnya berubah, tapi fondasinya tetap kuat. Cara kita mikir, menganalisis, itu didapat dari kuliah. Nggak percaya? Coba deh lihat beberapa contoh:

  • Sarjana Sastra/Sejarah jadi Content Creator/Marketer: Siapa bilang sastra cuma buat ngajar? Skill riset, narasi, dan pemahaman budaya yang didapat dari sastra/sejarah itu modal emas buat bikin konten yang menarik atau strategi marketing yang relatable.
  • Sarjana Hukum jadi HRD/Bisnis: Logika berpikir yang sistematis dan kemampuan negosiasi dari jurusan hukum itu sangat berguna di bidang HRD (atur kontrak, mediasi) atau di dunia bisnis (analisis risiko, bikin kesepakatan).
  • Sarjana Teknik jadi Konsultan/Manajer Proyek: Pola pikir logis, kemampuan memecahkan masalah, dan terstruktur dari anak teknik itu sangat dicari di bidang konsultan manajemen atau manajer proyek di industri apa pun.
  • Sarjana Komunikasi jadi Data Analyst: Lho, kok bisa? Anak komunikasi belajar memahami audiens dan pesan. Di Data Analyst, mereka bisa pakai kemampuan itu untuk menginterpretasi data dan menyampaikannya jadi cerita yang mudah dipahami, biar insight-nya nggak cuma angka doang.

Seperti kata Albert Einstein:

Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.

Jadi, ilmu kita itu buat meluaskan pandangan, bukan membatasi, Guys!

Pengalaman Kerja (Walau Gak Nyambung) Itu Emas, Guys!

Setiap kerjaan, se-gak-nyambung apa pun itu, pasti ngasih kita pengalaman berharga: kita belajar budaya kerja, ketemu orang baru, di-pressure deadline, belajar software baru, ngadepin klien yang macem-macem. Anggap aja ini 'masa training' hidup yang dibayar. Lumayan kan, sambil belajar, sambil ngumpulin cuan dan dapat pengalaman buat di CV. Ini bagian dari journey kita buat nemuin apa yang kita suka dan nggak suka.

'Orang Dalam' Cuma Bikin Masuk, Performa Kita yang Bikin Stay (dan Shine)!

Oke, mereka mungkin bisa 'nyelip' pakai jalur khusus (entah kolusi, nepotisme atau suap). Kita tahu itu sangat menyebalkan. Tapi, buat bisa bertahan, apalagi berkembang di perusahaan, tetap butuh performa, skill, dan ilmu. Kalau nggak punya itu, hanya ngandalin orang dalam buat masuk, cepat atau lambat bakal keteteran juga.

Justru ini kesempatan kita buat buktiin kalau kita punya lebih dari sekadar koneksi orang dalam. Kualitas dan kerja keras kita itu nggak bohong, guys. Percaya deh, akan tiba waktunya di mana performa kita berbicara lebih lantang daripada sekadar bisikan 'orang dalam'. Jadi, ini PR buat kita: gimana caranya kita bikin value diri kita lebih tinggi dari sekadar 'orang dalam'.

Survive dan Berjuang di Dunia Nyata

1. Stop Nyalahin Diri Sendiri, Yuk Kita Evaluasi!

Berhenti deh baper dan nyalahin diri sendiri karena hal-hal yang nggak bisa kita kontrol. Fokus ke hal-hal yang bisa kita kontrol. Coba deh list, skill apa aja yang udah kita dapet dari kerjaan sekarang (meski gak nyambung)? Dan yang paling penting: "Kita itu sebenarnya pengennya apa sih dari karir ini?" Introspeksi itu penting, tapi bukan buat overthinking.

2. Jadi Pembelajar Seumur Hidup, Biar Kita Tetap Capable

Dunia kerja itu kayak game yang patch-nya update terus, cepet banget berubah. Kita harus lebih cepet lagi. Jangan cuma ngandelin ijazah lama. Yuk, kita ikutan kursus online (Kayak di Coursera, Udemy, SkillShare), bootcamp, atau sertifikasi yang relevan dengan skill yang dibutuhkan di pasar kerja sekarang atau di bidang yang kita incar. Jadilah relevan, bukan cuma "sarjana".

3. Bangun Jaringan (Yang Sehat), Bukan Sekadar 'Orang Dalam':

Networking itu penting, tapi bedakan dengan kolusi. Kita bisa kenalan sama profesional di bidang yang kita minati lewat LinkedIn, ikut seminar, atau komunitas. Tujuannya bukan buat 'titipan', tapi buat tukar pikiran, dapet insight baru, dan siapa tahu, nemuin peluang yang fair dan meritokratis.

4. Bikin Jalur Alternatif Sendiri: Be Brave, Guys!

Kalau jalur korporat rasanya buntu terus karena sistem yang kadang bikin sebel, jangan takut buat mikirin jalan lain. Freelancing, digital nomad, mulai usaha kecil-kecilan, atau bahkan pivot karir drastis. Kenapa nggak? Kita punya ilmu dan kreativitas buat bikin peluang kita sendiri! Jangan pernah berpikir kalau jalan itu cuma satu. Tapi jangan sampe terjebak ke hal negatif kaya bikin scam atau bahkan judi online.

5. Mental Baja di Dunia yang Kadang Gak Adil: Ini Ujian, Bukan Hukuman!

Dunia ini memang nggak selalu adil, itu realita pahit yang harus kita telan. Tapi bagaimana kita menyikapi ketidakadilan itu yang bakal ngebentuk siapa diri kita. Anggap aja ini 'ujian' biar kita jadi makin kuat, makin kreatif, dan makin tangguh buat masa depan.

Seperti kata Charles R. Swindoll:

Hidup itu 10% apa yang terjadi padamu, dan 90% bagaimana kamu bereaksi terhadapnya.

Jadi, ini bukan hukuman, tapi tempaan (forge) untuk mental kita.

Kita Punya Ilmu, Kita Punya Masa Depan

Jadi, guys, semua perjuangan dan ilmu yang udah kita dapet itu NGGAK AKAN SIA-SIA. Itu modal paling berharga yang nggak bisa diambil siapa pun, termasuk si 'orang dalam' itu. Mungkin jalannya berliku, kadang bikin nangis, tapi setiap belokan itu ada pelajaran baru, ada skill baru, dan ada peluang baru yang menunggu.

Jangan biarin realita pahit ini bikin kita down dan berpikir ilmu kita nggak berguna. Justru di tengah situasi inilah, kemampuan adaptasi, berpikir kritis, dan kegigihan kita diuji. Kita punya ilmu, kita punya semangat, kita punya masa depan di tangan kita sendiri!

Jadi, masih mau nyerah dan bilang ilmumu sia-sia? Atau mau pakai ilmumu (dan mental bajamu) untuk menaklukkan realita ini? Pilihan ada di tangan kita, Sahabat. Siap Gas? Yuk, kita buktikan!